Breaking

logo

Jumat, 03 Agustus 2018

PETANI DI TRENGGALEK MEMILIKI TRADISI UNIK UNTUK MENGENANG SALAH SATU TOKOH YANG DINILAI BERJASA DALAM BIDANG PERTANIAN

PETANI DI TRENGGALEK MEMILIKI TRADISI UNIK UNTUK MENGENANG SALAH SATU TOKOH YANG DINILAI BERJASA DALAM BIDANG PERTANIAN

TRENGGALEK,  Jombang Pos - Para petani di Trenggalek memiliki tradisi unik untuk mengenang salah seorang tokoh yang dinilai berjasa dalam bidang pengairan, mereka melarung kepala kerbau ke sebuah dam untuk diperebutkan warga.




Tradisi larung kepala kerbau yang kini disebut Bersih Dam Bagong, rutin digelar setiap setahun sekali dalam bulan Selo (penanggalan Jawa) di Dam Bagong, Kelurahan Ngantru, Kecamatan Trenggalek.




Potongan kepala kerbau dan aneka sesaji terlebih dahulu dikirab dari rumah sesepuh desa menuju komplek makam tokoh pengairan Trenggalek Ki Ageng Menak Sopal. Sedangkan Bupati Emil Elestianto Dardak beserta istrinya Arumi Bachsin dan beberapa pejabat melakukan ziarah dan tabur bunga di atas pusara Menak Sopal.




Usai melakukan tabur bunga, kepala kerbau dan beberapa potongan bagian tubuh kerbau dibawa ke Dam Bagong unuk dilarung dengan disaksikan oleh ribuan warga. Sejumlah masyarakat sekitar yang telah mengantre di bawah dam langsung menceburkan diri ke dalam air untuk memperebutkan kepala kerbau maupun bagian lainnya.




Menurut juru kunci makam Menak Sopal, tradisi bersih Dam Bagong ini merupakan tradisi tahunan untuk mengenang Menak Sopal karena dinilai telah berjasa membangun waduk kecil tersebut sehingga bisa dimanfaatkan oleh ribuan petani di Kecamatan Trenggalek dan Pogalan.




Pembangunan dam ini memiliki arti yang sangat penting, karena pada zaman dahulu petani hanya bisa panen dua kali setahun, sekarang bisa tiga kali setahun," kata Naim kepada Wartawan, Jumat (3/8/2018).




Kepala kerbau yang dilarung tersebut merupakan simbol dari pengorbanan dan konon sekaligus pengganti kepala gajah putih yang dahulu digunakan untuk sesaji proses pembangunan dam.




Dalam legenda yang diceritakan secara turun-temurun, saat membangun dam tersebut, menak sopal selalu mengalami kegagalan. Atas saran dari gurunya, ia pun di minta untuk mengorbankan sekor gajah putih.




Kita semua berharap dam ini tetap bisa dimanfaatkan oleh para petani dan tentunya semoga Trenggalek tetap makmur para petaninya," imbuhnya.




Bupati trenggalek, Emil Dardak yang hadir dalam tradisi ini, mengatakan larung kepala kerbau ini tergolong unik, karena cerita rakyat yang melatarbelakangi adalah tokoh pengairan atau infrastruktur.




Emil berharap tradisi ini menjadi salah satu penyemangat masyarakat maupun pemerintah dalam memperhatikan dan peduli terhadap nasib infrastruktur pertanian di Trenggalek.




Bagi saya ini cukup berkesan, karena bersih Dam Bagong ini yang terakhir saya datangi sebagai bupati," kata Emil.




Sementara itu sejumlah warga yang berebut kepala dan tulang kerbau mengaku cukup senang dan terhibur dengan upacara adat tersebut, kepala kerbau ini biasanya akan dibagi sesama rekan yang berburu untuk dimasak di rumah masing-masing.




Setiap kali ada tradisi ini kami selalu ikut berburu di dam. Untuk mendapatkan ini lumayan sulit, karena kedalaman air mencapai 3 meter," ujar salah warga Fajar.



Sebelum prosesi larung kepala kerbau, terlebih dahulu di gelar ritual ruwatan melalui pagelaran wayang kulit dengan lakon Murwakala. Ruwatan digelar dengan harapan para petani di wilayah Trenggaek dijauhkan dari marabahaya dan kejadian yang tidak diinginkan.  (Lelono)

Attention : Segala Jenis Bentuk Berita yang terdapat di situs Jombang Pos Berdasarkan Dari Sumber Online dan Lapangan Secara Langsung, Untuk Klarifikasi Mengenai Pemberitaaan silahkan klik disini