Breaking

logo

Rabu, 01 Agustus 2018

PULUHAN ORANG ANGGOTA MASYARAKAT MENGGELAR KENDURI DI KANTOR DPRD TK II KABUPATEN MOJOKERTO

PULUHAN ORANG ANGGOTA MASYARAKAT MENGGELAR KENDURI DI KANTOR DPRD TK II KABUPATEN MOJOKERTO

MOJOKERTO,  Jombang Pos - Puluhan anggota masyarakat adat Sendi menggelar kenduri di kantor DPRD Kabupaten Mojokerto. Kenduri ini salah satu aksi menuntut pemerintah segera mengakui Desa Sendi menjadi Desa Adat.

Puluhan pria dan wanita dengan busana adat Jawa itu berkerumun di lobi kantor DPRD Kabupaten Mojokerto di Jalan A Yani. Di hadapan masyarakat adat sendi ini berjajar tumpeng beserta singkong dan pisang. Ada tumpeng nasi kabuli, nasi putih dan nasi jagung yang menjadi khas Desa Sendi.


Asap dupa yang mereka bakar, menyebarkan bau wangi di seputaran lobi kantor dewan. Sejurus kemudian, tokoh adat melantunkan kalimat-kalimat doa dalam Bahasa Jawa. Disusul pembacaan doa secara Islam.


Selesai doa dilantunkan, tumpeng-tumpeng itu menjadi santapan warga dan para wartawan yang meliput. Sebagian tumpeng juga diberikan ke anggota DPRD Kabupaten Mojokerto.


Sudah menjadi tradisi kami kalau punya hajat apapun disertai sedekah. Kami bawa tumpeng kemakbulan dan kami gelar doa. Harapannya apa yang diinginkan masyarakat adat Sendi dikabulkan," kata Pejabat Sementara Kepala Desa Sendi Sucipto kepada wartawan di lokasi, Rabu (1/8/2018).


Sebelum tiba di kantor dewan, masyarakat adat Sendi ini menggelar kirab budaya dari Alun-Alun Kota ke kantor Bupati Mojokerto. Dalam kirab ini mereka menyuguhkan kesenian kuda lumping dan bendera merah-putih sepanjang 10 meter.


Selain itu, 2 kotak kayu berisi dokumen juga mereka bawa dalam kirab tersebut. Sayangnya, tiba di pintu gerbang, petugas Satpol PP dan polisi tak mengizinkan mereka masuk. Massa lantas menuju ke kantor DPRD yang berada persis di sisi barat kantor Bupati Mojokerto.


Di kantor dewan perwakilan tokoh adat Sendi diterima anggota DPRD Mojokerto Setia Pudji Lestari dan Budi Mulyo. Kepada dua anggota dewan ini, mereka menyerahkan 2 kotak kayu yang berisi dokumen-dokumen terkait Desa Adat Sendi.


Isi kedua kotak ini di antaranya surat permohonan dan dokumen identifikasi terkait keberadaan desa adat Sendi. Sudah kami uraikan lengkap, sejarah, silsilah dan infomrasi lain untuk memperkuat penerbitan produk hukum oleh pemerintah daerah," ungkap Sucipto.


Rangkaian aksi masyarakat adat Sendi ini, lanjut Sucipto, untuk melanjutkan perjuangan mereka meminta pengakuan dari Pemkab Mojokerto yang digelar sejak tahun 1999. Warga menuntut pemerintah segera mengesahkan Sendi sebagai Desa Adat.


Kami menuntut adanya payung hukum baik berupa Perda maupun Perbup dari Pemkab Mojokerto kaitannya dengan pengakuan dan perlindungan Desa Adat Sendi. Eksistensi kami di Sendi mohon ada pengakuan," terangnya.


Sucipto mengaku masyarakat adat Sendi tak mengharap bantuan keuangan dari pemerintah. Warganya juga tak berniat merebut lahan milik Perhutani yang kini mereka tempati.

Tapi kami meminta kembali hak yang diwariskan leluhur kepada kami. Kami akan memelihara hutan sebaik mungkin. Realitasnya saat ini hutan di Sendi semakin terawat, sumber air juga melimpah," jelasnya.


Hanya saja, tambah Sucipto, pembentukan Sendi menjadi Desa Adat menuai penolakan dari Pemprov Jatim. Menurut dia, salah satu syarat yang tak bisa dipenuhi adalah jumlah penduduk minimal 6 ribu jiwa. Sementara di Desa Sendi saat ini hanya dihuni 700 jiwa.


Status Sendi masih desa adat persiapan. Tapi kami kan masyarakat khusus, masyarakat hukum adat. Harusnya yang dipakai Permendagri No 52 tahun 2014 tentang Pedoman Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat," tegasnya.


Sementara Setia Pudji Lestari berjanji akan mengkaji semua aturan yang ada untuk mengakomodir keinginan masyarakat adat Sendi. "Akan kami minta Pak Wabup agar Perbup atau apa bisa keluar. Juga kami bersama Pemkab Mojokerto mencari celah aturannya," tandasnya.
(Yanto)

Attention : Segala Jenis Bentuk Berita yang terdapat di situs Jombang Pos Berdasarkan Dari Sumber Online dan Lapangan Secara Langsung, Untuk Klarifikasi Mengenai Pemberitaaan silahkan klik disini